Sudah Tahu Aplikasi DIDIQ ?Ternyata Ini Lho Manfaatnya !

Aplikasi DIDIQ untuk kesejahteraan guru

Sebuah kalimat sakti mengawali mimpi seorang Rofikoh Rokhim, doctor lulusan Universite de Paris 1 Pantheon-Sorbonne, Paris, Prancis

An investment in knowledge pays the best interest (Benjamin Franklin, 1758).

Kata-kata mutiara itulah yang mempotivasi dirinya melanjutkan belajar mengambil kelas-kelas di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Harvard, Stanford, Wharton, Chicago, LSE, Oxford, INSEAD, dan lainnya.

Dirinya memutuskan mengabdikan dirinya sebagai pendidik dan kini mengemban tugas sebagai guru besar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB-UI). Tentu, pencapaian ini tidak diraih dengan cara yang mudah, Rofikoh yang lahir dari keluarga sederhana di kota kecil Klaten, Jawa Tengah terus memotivasi dirinya untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya.

Kendati dalam keterbatasan sumber daya dan akses, Rofikoh menyadari betul bahwa dengan pendidikan seseorang akan bisa mencapai tujuan yang diinginkan. “Berangkat dari pengalaman itu, saya menyadari bahwa akses pada pendidikan berkualitas adalah kunci penting dan harus menjadi hak setiap orang. Konsep dasar ini pula yang dibawa saat mengembangkan aplikasi pendidikan bernama DIDIQ,” kata Rofikoh di Jakarta, Rabu (25/11/2020).

Aplikasi DIDIQ  Bantu Kualitas Pendidikan Indonesia

Ia mengatakan, aplikasi yang dikembangkan itu mengusung konsep bimbingan belajar (bimbel), di mana DIDIQ mengambil sudut berbeda dari kebanyakan edutech yang selama ini sudah ramai mengisi pasar aplikasi pendidikan.

Kekuatan DIDIQ, lanjutnya, menyediakan platform interaksi dua arah antara guru dan siswa di mana pun berada di seluruh Indonesia. Kapan pun siswa memerlukan bantuan dalam pelajaran, akses ke guru berkualitas sangat mudah dilakukan.

“Hanya dengan membuka aplikasi dan mengunggah pertanyaan, seketika sistem akan menghubungkan siswa dengan guru yang siap membantu secara daring,” jelas Rofikoh.

Ia berharap siswa di pelosok daerah dapat mempunyai kemewahan yang sama untuk belajar dari guru berkualitas. Sebab poin penting yang ingin dicapai adalah pemerataan kualitas pendidikan berbasis teknologi.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa sistem yang dijalankan pada aplikasi DIDIQ adalah sharing economy berbasis social enterprise. Artinya, sebagian besar dari biaya yang dibayarkan oleh siswa akan dibagikan kepada guru yang bersedia membantu.

Dengan harga Rp 5.000 per satu pertanyaan, DIDIQ juga ingin berperan dalam membantu siswa yang kurang mampu tetapi memiliki tekad yang kuat untuk belajar.

Harga yang tak begitu mahal seperti sedekah / infaq rutin di masjid.

Di saat yang sama, lanjut Rofikoh, platform ini tidak hanya memberikan wadah untuk pengabdian guru, juga bermanfaat finansial dalam meningkatkan kesejahteraan guru.

Selain itu, dari dana operasional akan disisihkan untuk mengurangi kesenjangan ekonomi antara kota besar dan kota kecil sehingga akan dikelola untuk diberikan subsidi kepada guru dan siswa di pedalaman yang kurang mampu membeli peralatan dan pulsa, pelatihan guru untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman, serta akan dibentuk menjadi dana beasiswa untuk membantu putra-putri Indonesia dapat memperoleh akses ke universitas terbaik di dunia.

 

Leave a Comment