Pola Asuh Anak Terbaik Yang Bisa Ditiru Dari Negara Skandinavia

Skandinavia menjadi negara dengan pola asuh anak terbaik menurut salah satu situs berita Amerika Serikat di tahun 2017. Disamping negaranya memiliki status perekonomian yang kuat, ternyata pemerintah negara Skandinavia merupakan pemerintah yang paling luwes didalam memberikan cuti khusus untuk parental (kegiatan menyangkut orang tua dan anak).

Disamping itu, ternyata ada beberapa faktor lain terkait budaya pola asuh anak yang membuatnya menjadi negara dengan pola asuh terbaik di seluruh dunia. Beberapa pola asuh anak tersebut adalah :

  • Biarkan Anak Bermain Dengan Bebas

Sementara mayoritas orang tua di negara lain (termasuk Indonesia sekarang) melarang anak-anaknya untuk berkotor-kotor, anak-anak di negara Skandinavia justru di bebaskan untuk bermain di luar ruangan yang notabene kotor dan penuh debu.

Mereka bebas untuk menggali tanah, bermain lumpur, dan bereksplorasi diluar ruangan. Bahkan, kegiatan semacam ini justru masuk dalam kurikulum resmi untuk anak-anak sekolah.

Para orang tua di Skandinavia juga menyadari bahwa “Messy Play” atau permainan yang membut berantakan sangat penting bagi pertumbuhan dan masa kanak-kanak yang baik.

Selain itu, membiarkan anak untuk menggali tanah dan berkotor-kotor, menurut mereka sangat baik untuk kesehatan anak.  Dengan hal itu, anak-anak secara pasti dapat membangun sistem imun tubuh mereka sendiri, menyehatkan usus, dan juga mengurangi resiko terkena alergi dan lain sebagainya. Beberapa bakteri yang ada di tanah bahkan disinyalir dapat memicu pertumbuhan serotonin neurotransmitter dari saraf otak, yang bisa membuat perasaan anak-anak menjadi lebih baik.

  • Bebas Bermain Sepulang Sekolah

Disaat para orang tua di negara kita menambahkan beban kepada anak setelah sekolah dengan berbagai kegiatan les, kursus, belajar tambahan, dan lain sebagainya. Anak-anak di Skandinavia justru dibebaskan melakukan hal apapun setelah sepulang sekolah.

Mereka bisa memanjat pohon, bermain dengan api, berlarian, bermain peran, dan lain sebagainya. Kegiatan seperti ini dimaksudkan agar saraf motorik anak akan terpicu untuk tumbuh lebih cepat secara alami, dan hasilnya kinerja otak juga akan meningkat dengan sendirinya.

Apalagi, dengan membebaskan anak-anak untuk bermain, mereka akan belajar untuk menerima resiko dari seluruh kegiatan yang dilakukannya, serta mampu untuk membuat keputusan yang baik serta dapat mempertanggungjawabkannya.

  • Tidak Ada Paksaan Belajar Lebih Awal

Di Skandinavia, anak-anak pada usia awal (1 – 5 tahun) tidak dibebani dengan kegiatan belajar formal sama sekali. Para orang tua disana justru mengharapkan anak-anak usia tersebut mampu untuk menghabiskan waktunya hanyan untuk bermain selama mungkin.

Baru ketika umur 6 – 7 tahun, mereka akan memulai sekolah mereka.  Namun, pada usia ini, mereka juga tidak dibebankan pada target tertentu seperti harus bisa membaca, menulis, berhitung dan lain sebagainya.  Menurut penelitian, pada usia 11 tahun, dan usia anak-anak 6 – 7 tahun, tidak ada perbedaan yang mencolok pada kemampuan belajarnya. Sehingga prioritas belajar baru akan dimulai pada umur 11 tahun, disaat mereka sudah menghabiskan masa-masa kecil yang indah bersama dengan teman-temannya.

Dengan meniru beberapa konsep pola asuh anak diatas, ada jaminan bahwa anak-anak akan merasa bahagia dengan kehidupannya, sehingga antusiasme terhadap pembelajaran menjadi lebih besar, dan daya tumbuh kembangnya pun akan terpacu dengan pesat. Jangan sampai anda terlalu menekan dalam setiap aktifitas anak, apalagi untuk melakukan pekerjaan anda sebagai service karpet masjid atau pekerjaan lainnya yang terlalu berat, karena memang sudah ketentuan anak dimasa kecilnya untuk bermain dan berkumpul bersama teman-teman mereka.

Leave a Comment