Geger Kekerasan Anak di Sekolah, Dewan Kota Malang Minta Pendidikan Karakter Diperkuat

Beberapa hari lalu, dunia pendidikan lagi-lagi mendapat berita tidak baik terkait salah satu korban pembullyan hingga berujung amptasi jari tangan. Kejadian tersebut terjadi untuk kesekian kalinya di Kota Malang.

Oleh sebab kejadian tersebut, sistem pendidikan di Kota Malang pun langsung menjadi menjadi sorotan public dan mendapat beragam penilaian.

Kasus perundungan atau bullying yang dialami salah satu siswa berinisial MS di SMPN 16 Kota Malang pun seolah kembali mencoreng nama kota yang memiliki julukan kota pendidikan. Berita tersebut juga semakin menambah catatan kelam kasus kekerasan terhadap anak di sekolah.

Padahal, notabene sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk menimba ilmu pengetahuan dan sekaligus tempat menanamkan pendidikan karakter.

Akan tetapi,rasa aman dan nyaman tersebut tidak didapatkan oleh MS. Alih –alih merasa aman, dirinya justru menjadi bulan-bulanan dari tujuh temannya. Bahkan, akibat kekerasan yang menimpanya ia harus menjalani operasi amputasi jari tengah tangan kanannya.

Kasus perundungan ini pun mendapat perhatian warga malang dan disorot oleh anggota DPRD Kota Malang. Menganggapi kasus ini, dewan menilai ada unsur kelalaian dari pihak sekolah dalam mengawasi aktivitas para siswanya.

Geger Kekerasan Anak di Sekolah, Dewan Kota Malang Minta Pendidikan Karakter Diperkuat

Penguatan Pendidikan Karakter Anak

Menurut anggota DPRD Kota Malang, anak yang telah memiliki track record yang bisa disebut berperilaku menyimpang atau nakal, seharusnya bisa mendapat perhatian serius.

“Tentu ini sangat disayangkan, tapi bagaimanapun mereka anak-anak yang masih punya masa depan. Artinya, tidak serta merta sekolah main mengeluarkan siswa, tapi ini perlu perhatian khusus. Guru-guru, pembimbingnya, dan sebagainya,” ungkap Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Ahmad Wanedi.

Padahal kejadian kekerasan terhadap anak bukan hanya terjadi sekali ini saja di Kota Malang. Lantas apa rekomendasi untuk instansi pendidikan di Indonesia agar kejadian serupa tidak terulang lagi?

Wanedi pun menjelaskan, pembelajaran dengan pendidikan karakter siswa harus lebih diperkuat. Ketika seorang anak memiliki karakter yang kuat, maka sikap dan perilaku akan lebih bisa terkontrol. Dengan begitu, ketika sistem penguatan pendidikan karakter itu berjalan maka kejadian-kejadian kekerasan atau penganiayaan bisa terhindarkan.

“Tentu ini pendidikan karakter (yang harus dikuatkan). Sistem pendidikan itu harus bisa membedakan, ini yang harus dilakukan seperti ini. Karena apa, setiap orang pasti punya prestasi dengan cara yang berbeda. Jadikanlah anak-anak itu, anak-anak kita, berbudi pekerti yang baik,” ungkapnya

Leave a Comment