Belajar Daring Bikin Anak Depresi, Ini Pencegahan Menurut Kak Seto

Belajar Daring Bikin Anak Depresi, Ini Pencegahan Menurut Kak Seto

Kasus siswa meninggal karena bunuh diri selama penerapan belajar jarak jauh (online) memang cukup sering terdengar.

Beberapa waktu lalu, seorang pelajar kelas 2 SMA di Gowa, Sulawesi Selatan, ditemukan meninggal dunia di tempat tidurnya.

Hasil penyelidikan pihak kepolisian menduga , pelajar tersebut nekat mengakhiri hidupnya akibat depresi dengan beban tugas dari sekolah selama belajar daring.

Peristiwa itu lagi lagi menambah daftar catatan pelaksanaan program pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi sejak bulan maret lalu.

Menurut Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Setyo Mulyadi atau Kak Seto, pembelajaran daring selama pandemi Covid-19 ini seharusnya lebih menekankan pada kecapakan hidup

Pendapat tersebut sejalan dengan instruksi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.

“Mas Menteri sudah mengeluarkan edaran dan menegaskan bahwa belajar secara daring lebih menekankan pada kecakapan hidup. Jadi ditekankan bagaimana menghadapi Covid-19 ini, itu belajar juga,” ujar Kak Seto

Tidak hanya ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) saja yang bisa diajarkan selama masa pandemi . Menurutnya ada empat unsur lain dalam pembelajaran jarak jauh ini

 

4 Unsur Tambahan Belajar Daring Menurut Kak Seto

Pertama, pembelajaran mengenai etika. Dimana guru dan orang tua perlu mengajarkan pada anak tentang bagaimana bersikap sopan santun, bekerja sama, dan saling menghormati terhadap orang lain

Kedua, guru juga bisa mengajarkan tentang estetika. Contohnya seperti membuat rumah lebih bersih, rapi, dan menyenangkan.

Ketiga, pembelajaran mengenai nasionalisme. Dimana anak bisa dididik untuk bangga menjadi anak Indonesia. Salah satunya dengan bernyanyi lagu lagu daerah dan dibuat agar menyenangkan.

Keempat, menurut Kak Seto perlu juga belajar mengenai kesehatan. Terutama dimasa pandemi yang merupakan momentum sangat tepat mengajarkan bagaimana istirahat yang cukup, olahraga, sehat mental dan terus semangat serta tidak mudah putus asa.

Kak Seto juga mengingatkan, pembelajaran di masa pandemi tak boleh menekankan pada penuntasan capaian akademik dan kelulusan.

Dengan kondisi itu, semua guru sebaiknya tak memberikan materi terlalu banyak agar orang tua dan siswa tidak terlalu stres.

“Ini yang penting itu learning how to learn, bukan how to learn. Jadi jangan belajar materi, tapi bagaimana anak senang belajar,” tutur dia.

“Belajar itu bukan hanya masalah akademik, yang pinter nyanyi ya bisa belajar nyanyi, yang nari ya belajar nari. Pokoknya dibuat segembira mungkin, pemahaman belajar itu luas,” lanjutnya.

Dirinya pun berpendapat, sekolah yang menerapkan belajar daring secara berlebihan, dapat membatasi kebebasan anak.

Hal itu akan membuat siswa cepat lelah dan tidak bisa fokus belajar. Pada akhirnya, mereka pun merasa sulit belajar karena suasana yang tak nyaman.

“Akhirnya malah kontraproduktif kan. Jadi harus diubah suasana belajar, biar anak tidak kehilangan semangat belajar. Pemahaman belajar jangan kaku pada aspek akademik,” terangnya.

Ia juga menambahkan bahwa setiap kategori usia memiliki batas maksimal untuk menatap layar ponsel.

“Orang tua juga harus berani bersuara. Suarakan kepada guru, bahwa anak ini stres, anak ini tidak bisa,” tambahnya.

Jika banyak anak merasa stres ketika pembelajaran daring, Kak Seto menyebut hal itu sama dengan penyiksaan terhadap anak atas nama pendidikan.

Leave a Comment